Diundur, King Arthur: Legend of the Sword Justru Untung

King Arthur: Legend of the Sword sempat mengalami beberapa kali penundaan untuk launching. Tapi, justru penundaan ini membawa berkah untuk tim efek visual.

Film yang saat ini sedang menjadi perbincangan hangat adalah King Arthur: Legend of the Sword yang berada di urutan ke dua di bawah Guardian of the Galaxy 2. Film King Arthur ini sendiri saat ini benar-benar menghentak pasar walau mengalami beberapa kali penundaan. Awalnya King Arthur: Legend of the Sword disebut-sebut akan dirilis Juli 2016 kemudian diundur menjadi Februari 2017, lalu pihak studio mengumumkan pada bulan Maret, dan akhirnya film bandar togel tersebut diputuskan memasuki bioskop di bulan Mei ini.

Penundaan Yang Membawa Berkah

Penundaan dari jadwal rilis King Arthur: Legend of the Sword sebenarnya merupakan berkah bagi film ini. Hal ini dikarenakan tim efek visual memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugasnya didalam menuangkan ‘sihir’ mereka dan sekarang sang sutradara Guy Ritchie bersikeras bahwa King Arthur: Legend Of The Sword lebih baik dengan jadwal rilis yang mengalami beberapa kali penundaan.

Ketika ditanya tentang perubahan King Arthur: Legend of the Sword selama 10 bulan produksi ini, Guy Ritchie baru-baru ini menjelaskan bahwa satu-satunya keuntungan dari penundaan jadwal rilis adalah bahwa mereka kurang lebih memiliki waktu ekstra untuk menajamkan efek visualnya agar terlihat lebih memukau. Hal ini dikarenakan berusaha menemukan akhir pekan [untuk rilis] hampir tidak mungkin. Jadi mereka harus menunggu sampai slot seperti sekarang dimana rilis pada bulan Mei 2017.

Ya, penundaan ini merupakan berkah karena memungkinkan mereka untuk bermain-main dengan efek visual hingga satu tahun lamanya. Jadi keuntungannya adalah efek visualnya, ada pekerjaan tambahan yang sudah dilakukan. Jadi, waktu penundaan tersebut sebenarnya tidak berhubungan dengan Guy Ritchie untuk memperbaiki beberapa scene melainkan tim efek visual yang bekerja keras selama masa penundaan tersebut.

Alih-alih terlalu terganggu dengan penundaan yang berulang kali terhadap King Arthur: Legend of the Sword, Guy Ritchie secara pragmatis merinci mengapa Warner Bros tidak memiliki pilihan lain selain menunggu bulan musim panas untuk menampilkan filmnya. Ini yang membuat film aksi tersebut terlihat lebih mengesankan. Tentunya, walau versi sebelum ditambahkan banyak efek visual tidak diketahui bagaimana dan seperti apa, apa yang ditampilkan sekarang jauh lebih baik.

Penambahan Efek Visual Memberikan Keuntungan

Ada banyak hal yang harus dilakukan pada tim efek visual untuk membuat King Arthur: Legend of the Sword sesuai harapan. Selama ini tim tersebut memang bekerja sangat keras karena film ini menampilkan semua jenis karakter mitos dan efeknya tidak diragukan lagi digunakan untuk meningkatkan setingan waktu juga. Anda dapat melihat beberapa efek keren dari film di trailer untuk King Arthur: Legend Of The Sword. Ada banyak efek yang sangat menarik.

Penambahan efek visual yang semakin dramatis dan tidak berlebihan ini nyatanya memberikan andil di dalam kesuksesan film tersebut. Memang, saat ini film King Arthur: Legend of the Sword belum menempati urutan pertama dan masih berada di urutan kedua, akan tetapi masih ada kesempatan untuk meraih keuntungan yang maksimal. Kesuksesan tersebut tentu salah satunya dikarenakan penambahan efek visualnya.

King Arthur: Legend of the Sword dirilis pada tanggal 12 Mei 2017 dan Anda bisa membaca berbagai ulasan atau review mengenai film tersebut tentang bagaimana epiknya film fantasi ini. Pastikan Anda kembali ke sini untuk mendapatkan update terbaru tentang King Arthur: Legend of the Sword. Ada banyak hal yang menarik untuk dibahas setelah nonton film bioskop
ini dirilis. Apakah film tersebut akan sukses atau sebaliknya? Kita lihat setelah keuntungan film tersebut diumumkan.

Koe no Katachi Tayang 3 Mei 2017

Koe no Katachi merupakan anime yang diadaptasi dari manga yang berjudul sama karya Yoshitoki Oima. Kisahnya diisi oleh cerita antara Shoko dan Shoya.

Anime dari negeri sakura memang selalu saja menarik untuk ditonton. Tak hanya anak-anak, tapi orang dewasa juga turut menyaksikannya. Salah satu film kartun Jepang yang sedang banyak diminati adalah Koe no Katachi. Film yang diproduksi oleh Kyoto Animation ini banyak sekali peminatnya di negeri asalnya. Bahkan banyak penonton yang kesulitan mendapatkan kursi, karena banyak waktu nonton film streaming yang telah penuh.

Koe no Katachi Adaptasi Dari Manga

Seperti yang telah diketahui, bahwa Koe no Katachi merupakan adaptasi dari manga yang jumlah volumenya tidak terlalu panjang, yaitu hanya 7 volume saja. Ada beberapa orang yang menyangsikan bila film ini dijadikan anime, akankah filmnya sangat pendek? Tapi ternyata anggapan tersebut salah. Ya, karena pihak Kyoto Animation sangat serius dalam mengerjakannya. Mereka mampu mengadaptasi manganya menjadi film dengan durasi 2 jam 10 menit atau setara dengan 130 menit. Tapi meskipun waktu penayangannya cukup lama. Penonton tak akan bosan, karena lur cerita yang disajikan sangat menarik, ditambah dengan ilustrasi gambar yang sangat bagus.

Anime Koe no Katachi atau A Silent Voice adalah film adaptasi manga karya Yoshitoki Oima, yang merupakan penulis dan ilustratornya. Film tersebut berjalan sebagai one shot dari Kodansha Bessatsu Shonen Magazine pada edisi Februari 2011. Pada bulan Agustus 2013, full manga telah diproduksi, dimana managa tersebut terbit mingguan di Kodansha Weekly Shonen Magazine. Seri tersebut telah tamat, dengan total kompilasi 7 volume dalam 61  chapter.

Sinopsis Koe no Katachi

Film Koe no Katachi berawal dari Shoya Ishida, yang merupakan anak SD. Dia termasuk anak yang nakal, karena melakukan pembullyan pada anak baru pindahan, Shoko Nishimaya yang ternyata adalah seorang tuna rungu. Shoya menunjukkan bully nya dengan berteriak kencang di telinga Shoko, membuang alat bantu dengar yang dimiliki Shoko, membuang buku yang dituliskan permintaan maaf Shoko saat ingin mengajak Shoya berteman dan tindakan jahil lainnya. Karena suatu peristiwa, Shoya ketahuan telah melakukan bully pada Shoko.

Di mulai dari sanalah penderitaan yang dialami Shoya. Karena kejadian itu, teman-temannya mulai menjauhinya. Shoya menjadi tak punya teman. Setelah peristiwa tersebut, waktunya dipercepat dan mereka sudah duduk di bangku SMA, tapi Shoya terus saja merasa bersalah. Namun suatu ketika, Shoya dan Shoko kembali bertemu, dan pertemuan itulah yang membuat Shoya berubah, dan saat itulah waktunya Shoya melakukan upaya dari kesalahan yang telah dilakukannya waktu dulu pada Shoko.

Dalam versi filmnya, pihak Kyoto Animation melakukan perubahan yang cukup banyak, hal itu agar cerita dapat selesai hanya dalam satu film saja. Sehingga cerita dalam Koe no Katachi ini lebih padat dan tidak bertele-tele. Selain itu Kyoto Animation juga telah memilih seiyuu ternama untuk film Koe no Katachi, seperti Miyu Irino sebagai Shoya Ishida, Saori Hayami untuk Shoko Nishimiya, Aoi Yuuki sebagai Yuzuru Nishimiya dan lainnya.

Peran dari seiyuu sudah tak perlu diragukan lagi. Saori Hayami yang berperan sebagai Shok, sangatlah mengagumkan, karena dalam Koe no Katachi ini, Shoko adalah seorang tuna rungu, sehingga tidak dapat berbicara lancer, karena tidak dapat mendengar kata-kata. Tapi,  Saori dapat memerankan dengan baik.

Kisah anime ini dapat dibilang menyedihkan, bahkan penonton ada yang sampai meneteskan air matanya. Bagi anda pecinta anime togel hk, sebaiknya segera menontonnya, karena tanggal 3 Mei 2017, anime ini akan ditayangkan di lebih dari 20 kota di Indonesia.

Belajar Cinta Tanah Air Dari Film Seteru

Seteru merupakan film yang disutradarai Hanung Bramantyo. Tujuan dari film ini adalah menyebarluaskan semangat bela Negara dan cinta tanah air.

Sutradara Hanung Bramantyo muncul kembali dengan karya barunya yang berjudul Seteru. Film poker online tersebut merupakan strategi baru dari Direktorat Bela Negara, Ditjen Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan, untuk dapat menyebarluaskan semangat bela Negara dan kecintaan terhadap tanah air, khususnya pada anak muda, sang penerus bangsa.

Sinopsis Film Seteru

Film Seteru ini dibintangi oleh Yusuf Mahadika yang berperan sebagai Ridwan, Bio One berperan sebagai Martin Tan, Mathias Muchus sebagai LetKol Rahmat, Alfie Alfandy sebagai Makbul, Marco, Mahdy Reza, Rifqa Amalsita. Tidak hanya itu saja, ada pula Triady Fauzi Sidiq, yang pernah meraih medali emas renang SEA Games 2013 dan medali perunggu SEA Games 2015, serta Yolla Yuliana yang merupakan anggota tim nasional volley di SEA Games 2013.

Drama aksi ini menceritakan mengenai perseteruan antara dua sekolah SMA yang ada di Yogyakarta. Sudah bertahun-tahun sekolah itu melakukan tawuran. Ya, SMA Budi Pekerti dan SMA Kesatuan Bangsa. SMA Budi Pekerti didominasi oleh siswa pribumi dari kelas menengah ke bawah, sedangkan SMA Kesatuan Bangsa didominasi siswa menengah atas. Dampak dari perselisihan itu hingga menimbulkan korban dan menimbulkan dendam antar angkatan.

Perselisihan yang terjadi terus menerus, akhirnya membuat kedua pimpinan sekolah melakukan perundingan dan menyerahkan pemimpin tawuran ke Letnan Kolonel Rahmat yang diperankan oleh Mathias Muchus, yang merupakan Komandan Kodim yang menaungi dua sekolah tersebut,agar dapat dibina dan dididik.

Letnan Satu Makbul (Alfie Alfandy) lah yang diserahkan tugas oleh Letkol Rahmat, untuk melakukan pembinaan pada anak-anak dari sekolah SMA Budi Pekerti dan SMA Kesatuan Bangsa. LetTu Makbul merupakan perwira yang berprestasi dan memiliki karakter keras pada anak buah. Anak yang masuk pembinaan di Batalyon Infantri 403 Wirasada Pratista di Yogyakarta adalah Martin Tan (Bio One) dan Ridwan (Yusuf Mahardika).

Di dalam Batalyon Infantri tersebut, anak-anak dididik dan dibina ala militer . Hal itu membuat, karakter mereka yang terlihat brutal saat melakukan aksi tawuran antar sekolah, perlahan menghilang. Lama kelamaan, dua kelompok sekolah yang berseteru dan menyimpan dendam itupun luluh dan mengikis perbedaan serta permusuhan yang sudah tersimpan lama. Tak hanya itu saja, tapi dua sekolah juga bersatu dan tergabung dalam satu tim futsal yang berprestasi.

Anak-anak kelompok kedua sekolah yang nampak sudah kompak, ternyata cerita dari film ini tak sampai disitu saja. Karena, teman-teman dari kelompok ada yang tidak suka dan terus menyimpan dendam.  Saat mereka ingin mencetak prestasi-prestasi, dendam dan terror pun turut membayangi.

Seteru : Saat Perbedaan Menjadi Masalah

Akankan mereka dapat mengatasi perselisihan antar sekolah itu? Atau tawuran tetap terjadi lagi?. Film ini akan mengupas mengenai perbedaan yang kerap kali menjadi sebuah bahan untuk sebuah perselisihan, yang bertemakan kehidupan remaja.

Film nonton movie yang mulai tayang tanggal 27 April 2017 ini, dapat dijadikan suatu media pembelajaran bagi para remaja, agar tidak terjerumus dalam tawuran atau perkelahian antar sekolah. Tak hanya itu saja, dalam film ini juga dikemas apik, mengenai permasalahan isu SARA yang sedang merebak belakangan ini. Hal itu karena, tokoh dalam film mewakili beberapa etnis di Indonesia, seperti Ridwan Samri (Yusuf Mahardika), yang merupakan pelajar keturunan Betawi yang dtinggal di Yogyakarta bersama ayahnya, walaupun “jagoan” tapi dia harus bekerja sebagai kuli panggul di pasar, sedangkan Martin Tan (Bio One), merupakan anak dari pengusaha  keturunan tionghoa, yang menjadi pemimpin di sekolah internasional.