Belajar Cinta Tanah Air Dari Film Seteru

Seteru merupakan film yang disutradarai Hanung Bramantyo. Tujuan dari film ini adalah menyebarluaskan semangat bela Negara dan cinta tanah air.

Sutradara Hanung Bramantyo muncul kembali dengan karya barunya yang berjudul Seteru. Film poker online tersebut merupakan strategi baru dari Direktorat Bela Negara, Ditjen Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan, untuk dapat menyebarluaskan semangat bela Negara dan kecintaan terhadap tanah air, khususnya pada anak muda, sang penerus bangsa.

Sinopsis Film Seteru

Film Seteru ini dibintangi oleh Yusuf Mahadika yang berperan sebagai Ridwan, Bio One berperan sebagai Martin Tan, Mathias Muchus sebagai LetKol Rahmat, Alfie Alfandy sebagai Makbul, Marco, Mahdy Reza, Rifqa Amalsita. Tidak hanya itu saja, ada pula Triady Fauzi Sidiq, yang pernah meraih medali emas renang SEA Games 2013 dan medali perunggu SEA Games 2015, serta Yolla Yuliana yang merupakan anggota tim nasional volley di SEA Games 2013.

Drama aksi ini menceritakan mengenai perseteruan antara dua sekolah SMA yang ada di Yogyakarta. Sudah bertahun-tahun sekolah itu melakukan tawuran. Ya, SMA Budi Pekerti dan SMA Kesatuan Bangsa. SMA Budi Pekerti didominasi oleh siswa pribumi dari kelas menengah ke bawah, sedangkan SMA Kesatuan Bangsa didominasi siswa menengah atas. Dampak dari perselisihan itu hingga menimbulkan korban dan menimbulkan dendam antar angkatan.

Perselisihan yang terjadi terus menerus, akhirnya membuat kedua pimpinan sekolah melakukan perundingan dan menyerahkan pemimpin tawuran ke Letnan Kolonel Rahmat yang diperankan oleh Mathias Muchus, yang merupakan Komandan Kodim yang menaungi dua sekolah tersebut,agar dapat dibina dan dididik.

Letnan Satu Makbul (Alfie Alfandy) lah yang diserahkan tugas oleh Letkol Rahmat, untuk melakukan pembinaan pada anak-anak dari sekolah SMA Budi Pekerti dan SMA Kesatuan Bangsa. LetTu Makbul merupakan perwira yang berprestasi dan memiliki karakter keras pada anak buah. Anak yang masuk pembinaan di Batalyon Infantri 403 Wirasada Pratista di Yogyakarta adalah Martin Tan (Bio One) dan Ridwan (Yusuf Mahardika).

Di dalam Batalyon Infantri tersebut, anak-anak dididik dan dibina ala militer . Hal itu membuat, karakter mereka yang terlihat brutal saat melakukan aksi tawuran antar sekolah, perlahan menghilang. Lama kelamaan, dua kelompok sekolah yang berseteru dan menyimpan dendam itupun luluh dan mengikis perbedaan serta permusuhan yang sudah tersimpan lama. Tak hanya itu saja, tapi dua sekolah juga bersatu dan tergabung dalam satu tim futsal yang berprestasi.

Anak-anak kelompok kedua sekolah yang nampak sudah kompak, ternyata cerita dari film ini tak sampai disitu saja. Karena, teman-teman dari kelompok ada yang tidak suka dan terus menyimpan dendam.  Saat mereka ingin mencetak prestasi-prestasi, dendam dan terror pun turut membayangi.

Seteru : Saat Perbedaan Menjadi Masalah

Akankan mereka dapat mengatasi perselisihan antar sekolah itu? Atau tawuran tetap terjadi lagi?. Film ini akan mengupas mengenai perbedaan yang kerap kali menjadi sebuah bahan untuk sebuah perselisihan, yang bertemakan kehidupan remaja.

Film nonton movie yang mulai tayang tanggal 27 April 2017 ini, dapat dijadikan suatu media pembelajaran bagi para remaja, agar tidak terjerumus dalam tawuran atau perkelahian antar sekolah. Tak hanya itu saja, dalam film ini juga dikemas apik, mengenai permasalahan isu SARA yang sedang merebak belakangan ini. Hal itu karena, tokoh dalam film mewakili beberapa etnis di Indonesia, seperti Ridwan Samri (Yusuf Mahardika), yang merupakan pelajar keturunan Betawi yang dtinggal di Yogyakarta bersama ayahnya, walaupun “jagoan” tapi dia harus bekerja sebagai kuli panggul di pasar, sedangkan Martin Tan (Bio One), merupakan anak dari pengusaha  keturunan tionghoa, yang menjadi pemimpin di sekolah internasional.

Kisah Hidup Chairil Anwar Akan Diangkat Ke Layar Lebar

Mira Lesmana berniat untuk mengangkat kisah hidup sastrawan paling populer Indonesia, Chairil Anwar ke layar lebar.

Setelah sukses menggarap film sekuel Ada Apa Dengan Cinta 2, Mira Lesmana, produser film kenamaan kembali mengumumkan bahwa saat ini dirinya dan tim tengah menggarap film tentang sastrawan besar Indonesia, Chairil Anwar. Publikasi tersebut diketahui dari akun Instagram miliknya yang sekaligus mengucapkan selamat hari film. Meskipun telah diumumkan tetapi faktanya film tersebut tak akan ditayangkan dalam waktu dekat ini. Saat ini film tersebut tengah dalam tahan script development, dan masih menurutnya, riset serta pengembangan cerita telah dilakukan sejak bulan January di tahun ini. Film bioskop online yang diberi judul “Aku, Chairil!” tersebut sekarang sedang dalam tahap draft ketujuh pada penulisan cerita atau plot outline alias synopsis panjang.

Penulisan naskah tersebut dilakukan oleh 3 orang yaitu, Mira Lesmana sendiri, Riri Riza, dan Zen Hae. Riri diprediksi akan menjadi sutradara dari film tentang sastrawan paling populer di Indonesia tersebut. Sementara Zen Hae adalah cerpenis dan penyair yang pernah memperoleh penghargaan pada bidang sastra. Untuk casting film tersebut bahkan tak akan dilakukan di tahun ini tergantung dari kesiapan produksi. Mira juga mengatakan bahwa ia belum mempunyai gambaran pemain yang cocok untuk memerankan tokoh besar tersebut. Saat ini focus dirinya dan tim adalah menyelesaikan cerita sebagai bagian yang paling penting dalam film. Begitu pun dengan jalan cerita hingga saat ini masih dirahasiakan. Mira Lesmana bersyukur bahwa pihak keluarga Chairil Anwar sangat mendukung penggarapan film tersebut.

Sekilas tentang Chairil Anwar

Chairil dilahirkan di kota Medan Sumatra pada tanggal 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta pada 28 April 1949. Penyair terkemuka di Indonesia ini mempunyai julukan si Binatang Jalang dan telah menulis sekitar 96 karya termasuk 70 puisi. Ada karyanya yang berjudul Aku akhirnya menjadi inspirasi Sjuman Djaya untuk menuliskannya dalam bentuk buku. Bila Anda menonton film Ada Apa Dengan Cinta 1 di tahun 2002, Anda pasti masih ingat buku ini pernah muncul pada film tersebut dan menjadi penghubung antara Cinta dan Rangga. Chairil Anwar termasuk dalam daftar sastrawan pelopor angkatan 45 serta puisi modern Indonesia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Dengan gagah berani ia menyuarakan kegelisahannya dalam karya-karya sastranya yang kebanyakan berkaitan dengan eksistensialisme, individualism, kematian, dan pemberontakan.

Nama sastrawan tersebut mulai terkenal setelah karyanya dimuat dalam Majalah Nissan di tahun 1942. Karya-karya yang banyak dikirimkan sebelumnya seringkali ditolak karena dianggap terlalu individualism. Selain menulis ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing karena Chairil juga menguasai 3 bahasa asing yaitu Inggris, Jerman, dan Belanda. Ia semakin mengembangkan kariernya pada bidang sastra dengan menjadi redaktur Ruang Budaya Siasat Gelanggang dan Gema Suasana. Karya-karyanya antara lain adalah Kerikil Tajam Dan Yang Terampas Dan Yang Putus, Deru Campur Debu, Tiga Penguak Takdir, Aku Ini Binatang Jalang, Derai-Derai Cemara, dan beberapa karya sastra sbobet yang diterjemahkan.

Akhir kehidupan Chairil Anwar

Sayangnya usia sastrawan jenius ini tidaklah panjang karena kesehatan tubuh tampaknya tidak menjadi prioritas utamanya. Ia dirawat di rumah sakit karena tifus dan berbagai komplikasi penyakit lainnya hingga menghembuskan napas terakhir di rumah sakit CBZ atau sekarang adalah Dr. Cipto Mangunkusumo.  Pemakamannya di TPU Karet Bivak Jakarta dihadiri ribuan orang termasuk para tokoh sastrawan tanah air. Hari kematiannya tersebut diperingati sebagai hari Chairil Anwar dan seorang kritikus sastra asal Belanda,  A. Teeuw menyatakan bahwa Chairil menyadari bahwa ia akan berpulang pada usia muda sebagaimana tema yang diangkat dalam puisinya yang berjudul Jang Terampas dan Jang Putus.

Jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan filmnya!

Persiapan Film Kartini

perubahan zaman yang semakin modern membuat sutradara hanung Bramantyo kesulitan membuat film yang berjudul Kartini yang harus membutuhkan set masa lalu.

Film yang berjudul Kartini merupakan film dari Indonesia terbaru yang akan tayang pada tanggal 20 April 2017 untuk menyambut hari kartini, film biografi ini akan mengangkat kisah tokoh perjuangan emansipasi wanita Indonesia R.A Kartini ke layar lebar dan akan menggandeng sederet aktor dan aktris papan atas Indonesia. Karya dari sutradara handal Hanung Bramantyo yang di garap oleh rumah produksi Legacy Pictures dan Dapur Film serta di produseri oleh Robert Ronny.

R.A kartini merupakan tokoh pahlawan nasional, pada usia 10 tahun kartini ingin bersekolah yang tinggi, dia juga pintar dan fasih dalam berbahasa Belanda, namun sayang dia harus di pinggit pada usia 12 tahun, masuk pingitan berarti di siapkan untuk menjadi raden Ajeng menjadi seorang istri dari Bupati agar mewarisi keturunan ningrat. Sebagai keturunan bupati ningrat dia harus mewarisi dan mewariskan darah ningratnya.

Tapi dia berontak meski ayahnya sangat mendukung tapi dia sangat di benci oleh keluarganya. Panggil aku Kartini saja tanpa Raden Ajeng. Begitulah yang selalu di ucapkan kepada adik-adiknya sebagai bentuk pemberontakannya.

Penghayatan dian sastrowardoyo dalam Film Kartini

Kartini menjadi film bioskop baru yang di bintangi oleh aktris cantik Dian Sastrowardoyo dan tidak lama lagi akan segera rilis. Berperan sebagai Kartini di akui Dian dirinya banyak melakukan pendalaman termasuk belajar berbicara dalam bahasa Jawa. Mendalami bahasa tersebut di akui Dian bukan sesuatu yang mudah, butuh banyak penghayatan agar cara bicara yang dia lakukan sama dengan makna yang di maksudkan.

ini bukan sekedar bunyi atau mengucapkan dialog di skenario dengan aksen jawa. Tetapi saat saya deliver setiap kata, I have to mean every word”. Ujar dian kepada detikHOT. Terlebih sesuai di kehidupan yang memiliki aturan ketat dalam keluarga kaya Jawa, ada beberapa bahasa yang cara bicaranya berbeda dari orang Jawa kebanyakan.

Bermain dalam biopik member pengalaman yang berbeda bagi Dian, “berbahasa jawa dengan segala unggah-ungguh atau tingkatan tata karma bahasa ini menjadi tantangan tersendiri, Karena saya nggak Cuma harus bisa ngomong, tapi berpikirnya  juga dalam bahasa jawa”. Ujar Dian doc/doc.

Kesulitan Hanung Bramantyo dalam penggapan film Kartini

Membuat sebuah film bioptik tidak hanya mudah dalam mereka ulang kisah yang pernah di alami oleh karakter yang akan di angkat, namun juga perlu menset ulang latar sebuah peristiwa yang pernah terjadi. Seperti film Kartini garapan hanung Bramantyo, tidak sedikit tim produksi yang membangun kembali tempat-tempat yang dulu menjadi latar tumbuhnya kartini di Jepara.

“Banyak ruang yang sudah berubah, bahkan sudah tidak ada lagi jejak masa lalunya. sudah benar-benar di rombak mau tidak mau kita membangun set lagi, termasuk untuk rumah kediaman Kartini”. Ungkap Hanung Bramantyo kepada detikHOT. Para tim juga membuat ulang kereta kuda yang di gunakan para bangsawan di masa lalu. Di akui Hanung di bagian itu saja ada ratusan juta yang di rogoh untuk membuat property agar terlihat sempurna.

Problem utama film sejarah Indonesia adalah tempat yang tidak pernah autentik. Tempat yang sebenarnya harus di pelihara sebagai warisan situs sejarah bandar togel online malah selalu di rusak salah satunya rumah Kartini. Rumah Kartini di pendopo semua lantainya sudah memakai marmer kecuali kamar pingitan yang sudah di bongkar habis. Makanya saya harus menyulap semuanya interior di sebuah studio di Jakarta dan eksteriornya di Jogyakarta. Ujar Hanung.

Film Kartini akan bertabur bintang papan atas sekelas Dian Sastrowardoyo, Reza Rahadian, Acha Septriasa, Ayushita, Adinia Wirasti hingga senior sekelas Christine Hakim. Film ini akan di tayangkan sehari sebelum hari kartini.

Film Religi Paling Populer Di Indonesia

Inilah 6 film yang mengangkat tema religi di tanah air tetapi sukses mendatangkan banyak penonton.

Bila Anda mengira bahwa masyarakat di tanah air hanya menyukai film-film dengan genre action, horor, atau drama saja, Anda tak sepenuhnya benar karena faktanya film-film dengan tema religi juga cukup banyak disukai. Seperti yang sudah banyak diketahui Indonesia memang memiliki beragam judul film dengan tema religi mulai dari yang terinspirasi dari kisah nyata sampai adaptasi cerita novel. Alur cerita yang digarap dengan menarik, terdapat nilai-nilai keagamaan yang bisa menjadi hikmah, serta aktor serta aktris ternama yang memerankan karakter-karakter utama, sukses menjadi daya tarik film-film tersebut. Nah, inilah film-film religi terpopuler di tanah air sebagai referensi bandar bola untuk film keluarga Anda.

99-cahaya-di-langit-eropa

Film religi terlaris di Indonesia

Dari beberapa judul film religi agen togel online inilah yang mampu mendatangkan penonton terbanyak di bioskop.

  1. Ayat-ayat cinta

Inilah film religi yang paling laris di tanah air dengan perolehan penonton hingga 3.6 juta orang. Film garapan Hanung Bramantyo ini bahkan disebut sebagai salah satu film paling laris sepanjang sejarah perfilman di Indonesia. Film ini diangkat dari novel yang juga mencapai best seller karya Habiburrahman El Shirazy.

  1. Ketikan Cinta Bertasbih

Film ini mengangkat kisah kehidupan serta perjalanan cinta dari tokoh utama bernama Azzam, seorang pemuda dari desa yang berhasil menuntut ilmu hingga ke universitas Al Azhar, Mesir. Sama seperti film Ayat-Ayat Cinta, film Ketika Cinta Bertasbih ini juga merupakan adaptasi dari novel karya penulis yang sama. Syuting benar-benar dilakukan di Mesir untuk membuat film ini benar-benar sama seperti novelnya. Penjualan tiket film ini hingga mencapai 3.1 juta lembar. Sederet aktor-aktor legendaris Indonesia seperti Deddy Mizwar serta Didi Petet juga turut serta pada film ini.

  1. Sang Pencerah

Selain bernuansa religi, film Sang Pencerah juga mempunyai unsur sejarah yang mengangkat biografi K.H Ahman Dahlan, salah satu pendiri organisasi Islam Muhammadiyah sekaligus salah satu tokoh pergerakan nasional. Aktor kawakan Lukman Sardi, sukses menampilkan sosok ulama yang bersahaja ini sehingga sukses menyedot perhatian para peminat film hingga berhasil mencapai penjualan hingga 1.1 juta tiket. Dari segi setting, film ini juga sukses menampilkan suasana di kota Yogyakarta pada awal abad ke-20.

  1. 99 Cahaya di Langit Eropa

Inilah kisah nyata yang dialami penulis novel yang diadaptasi menjadi film ini yaitu Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga yang harus melanjutkan studi ke Austria dan beradaptasi dengan kultur masyarakat setempat sambil tetap membawa identitasnya sebagai pemeluk agama Islam. Pada film religi yang termasuk terlaris di tanah air ini diangkat pula tentang sejarah peradaban Islam di Eropa serta berbagai permasalahan yang berkaitan dengan toleransi sebagai golongan minoritas di benua biru tersebut.

  1. Perempuan Berkalung Sorban

Film yang dibintangi oleh Revalina S. Temat yang tayang di tahun 2009 ini berlatar tentang dunia pesantren dan tradisi konservatifnya yang dianggap terlalu membatasi wanita. Si tokoh utama, Annisa berjibaku untuk memajukan kaumnya terutama dari segi wawasan serta pendidikan. Film ini sempat menimbulkan kontroversi walaupun tergolong film religi yang paling banyak ditonton.

  1. Negeri 5 Menara

Terakhir ada film yang masih diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Film ini mengangkat perjalanan 6 orang santri yang mempunyai latar belakang berlainan dan mempunyai mimpi yang berusaha dikejar.

Nah, sudahkah Anda menyaksikan semuanya?

Kemampuan Vino Bastian Memerankan Sosok Chrisye Diragukan

Film biopic ‘Chrisye’ akan segera dibuat dengan Vino Bastian yang akan memerankan sosok Alm. Chrisye. Banyak yang meragukan, tapi semua akan dibuktikan Vino.

Apa yang tidak bisa diperankan oleh Vino Bastian? Aktor muda yang sangat sarat akan pengalaman dan penampilannya selalu ditunggu banyak fans ini memang selalu bisa memerankan sosok apa saja dan sepertinya tanpa kesulitan. Sebelumnya, ia bisa dibilang sukses ketika memerankan sosok Kasion di Warkop DKI Reborn. Namun, kini ia mengakui mengalami kesulitan saat memerankan sosok Chrisye pada nonton movie terbarunya.

chrisye

Kesulitan Memerankan Sosok Chrisye

Pada film terbaru yang bergenre biopic dengan judul ‘Chrisye’ memang kemampuan, keahlian dan semua pengalaman memainkan peran Vino Bastian akan diuji. Bagaimana tidak? Ia merupakan aktor muda yang selalu memainkan peran yang bisa dibilang kocak kadang sangar, kadang romantis namun pada film ini ia harus bisa terlihat seperti sosok Alm. Chrisye yang kalem, kharismatik, berwibawa dan juga tentu skills bernyanyinya. Ini memang peran yang sulit.

Memang berat tanggungjawab Vino pada film Chrisye ini. Ia harus mampu merubah penampilan dan sikapnya agar terlihat seperti sosok musisi legendaris Indonesia yang artinya semua akan dipertanggungjawabkan karena memerankan sosok yang banyak diidolakan dan dikenang banyak orang sekarang. Jika ia salah sedikit saja memerankan sosok Chrisye, banyak fans Alm. Chrisye yang tidak hanya kecewa bahkan bisa saja marah.

Ini memang berat, namun menurut suami dari Marsha Thimoty ini, hal yang terberat ketika memerankan sosok Alm. Chrisye adalah bagaimana dirinya bisa diakui sebagai sosok Chrisye tanpa rasa ragu oleh istri Chrisye yakni beliau Damayanti Noor. Memang sulit bagi beliau untuk menemukan sosok Alm. suaminya pada penampilan Vino, tapi semuanya memang harus profesional dan Vino harus bekerja keras untuk bisa membuat ibu Damayanti Noor juga percaya bahwa sosok Alm. Chrisye akan kembali terlihat pada saat Vino memainkan perannya dengan apik.

Netizen Meragukan Vino Bastian

Kabar bahwa Vino akan memainkan Alm. Chrisye pada film dengan judul ‘Chrisye’ ini telah tersebar secara luas. Berita tersebut juga diketahui banyak netizen. Mereka kemudian menampilkan reaksi yang meragukan kemampuan Vino dalam memerankan sosok Chrisye terutama kemampuan Vino bernyanyinya.

Bagaimana tidak, kemampuan Alm. Chrisye dalam bernyanyi memang tidak perlu diragukan lagi, namun kemampuan Vino Bastian dalam bernyanyi? Bagaimana caranya, Vino yang tidak memiliki latar belakang bernyanyi apalagi memiliki suara dan kemampuan bernyanyi yang sama dengan sosok Alm. Chrisye kemudian akan memerankan sosok legendaris tersebut?

Bukan hanya kemampuan bernyanyi saja yang harus dipelajari oleh Vino, melainkan juga suara Alm. Chrisye yang sudah sangat khas di telinga pecinta musik tanah air dimana hampir tidak ada seorang pun yang memiliki suara khas yang sama dengan beliau. Ini juga yang membuat netizen meragukan apakah Vino akan mampu memerankannya dan mengantarkan film pada kesuksesan atau tidak.

Semuanya membutuhkan kerja keras dan bersikap profesional serta kerja sama semua orang yang terlibat dalam film ini termasuk juga sang sutradara, Rizal Mantovani yang harus mampu menampilkan sosok Alm. Chrisye yang sudah dikenal luas kembali terlihat pada diri Vino.

Film yang akan diproduksi oleh MNC Pictures ini rencananya akan mulai dibuat pada awal tahun 2017 namun kabar tentang film ini sudah tersebar luas dan menjadi trend di berbagai media. Kita akan lihat ketika film ini nanti dirilis, apakah kita akan melihat sosok Alm. Chrisye pada diri Vino di film togel singapura ini atau tidak. Memang sulit untuk memerankan sosok legendaris, tapi itu merupakan tantangan bagi Vino.