Kisah Hidup Chairil Anwar Akan Diangkat Ke Layar Lebar

Mira Lesmana berniat untuk mengangkat kisah hidup sastrawan paling populer Indonesia, Chairil Anwar ke layar lebar.

Setelah sukses menggarap film sekuel Ada Apa Dengan Cinta 2, Mira Lesmana, produser film kenamaan kembali mengumumkan bahwa saat ini dirinya dan tim tengah menggarap film tentang sastrawan besar Indonesia, Chairil Anwar. Publikasi tersebut diketahui dari akun Instagram miliknya yang sekaligus mengucapkan selamat hari film. Meskipun telah diumumkan tetapi faktanya film tersebut tak akan ditayangkan dalam waktu dekat ini. Saat ini film tersebut tengah dalam tahan script development, dan masih menurutnya, riset serta pengembangan cerita telah dilakukan sejak bulan January di tahun ini. Film bioskop online yang diberi judul “Aku, Chairil!” tersebut sekarang sedang dalam tahap draft ketujuh pada penulisan cerita atau plot outline alias synopsis panjang.

Penulisan naskah tersebut dilakukan oleh 3 orang yaitu, Mira Lesmana sendiri, Riri Riza, dan Zen Hae. Riri diprediksi akan menjadi sutradara dari film tentang sastrawan paling populer di Indonesia tersebut. Sementara Zen Hae adalah cerpenis dan penyair yang pernah memperoleh penghargaan pada bidang sastra. Untuk casting film tersebut bahkan tak akan dilakukan di tahun ini tergantung dari kesiapan produksi. Mira juga mengatakan bahwa ia belum mempunyai gambaran pemain yang cocok untuk memerankan tokoh besar tersebut. Saat ini focus dirinya dan tim adalah menyelesaikan cerita sebagai bagian yang paling penting dalam film. Begitu pun dengan jalan cerita hingga saat ini masih dirahasiakan. Mira Lesmana bersyukur bahwa pihak keluarga Chairil Anwar sangat mendukung penggarapan film tersebut.

Sekilas tentang Chairil Anwar

Chairil dilahirkan di kota Medan Sumatra pada tanggal 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta pada 28 April 1949. Penyair terkemuka di Indonesia ini mempunyai julukan si Binatang Jalang dan telah menulis sekitar 96 karya termasuk 70 puisi. Ada karyanya yang berjudul Aku akhirnya menjadi inspirasi Sjuman Djaya untuk menuliskannya dalam bentuk buku. Bila Anda menonton film Ada Apa Dengan Cinta 1 di tahun 2002, Anda pasti masih ingat buku ini pernah muncul pada film tersebut dan menjadi penghubung antara Cinta dan Rangga. Chairil Anwar termasuk dalam daftar sastrawan pelopor angkatan 45 serta puisi modern Indonesia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Dengan gagah berani ia menyuarakan kegelisahannya dalam karya-karya sastranya yang kebanyakan berkaitan dengan eksistensialisme, individualism, kematian, dan pemberontakan.

Nama sastrawan tersebut mulai terkenal setelah karyanya dimuat dalam Majalah Nissan di tahun 1942. Karya-karya yang banyak dikirimkan sebelumnya seringkali ditolak karena dianggap terlalu individualism. Selain menulis ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing karena Chairil juga menguasai 3 bahasa asing yaitu Inggris, Jerman, dan Belanda. Ia semakin mengembangkan kariernya pada bidang sastra dengan menjadi redaktur Ruang Budaya Siasat Gelanggang dan Gema Suasana. Karya-karyanya antara lain adalah Kerikil Tajam Dan Yang Terampas Dan Yang Putus, Deru Campur Debu, Tiga Penguak Takdir, Aku Ini Binatang Jalang, Derai-Derai Cemara, dan beberapa karya sastra sbobet yang diterjemahkan.

Akhir kehidupan Chairil Anwar

Sayangnya usia sastrawan jenius ini tidaklah panjang karena kesehatan tubuh tampaknya tidak menjadi prioritas utamanya. Ia dirawat di rumah sakit karena tifus dan berbagai komplikasi penyakit lainnya hingga menghembuskan napas terakhir di rumah sakit CBZ atau sekarang adalah Dr. Cipto Mangunkusumo.  Pemakamannya di TPU Karet Bivak Jakarta dihadiri ribuan orang termasuk para tokoh sastrawan tanah air. Hari kematiannya tersebut diperingati sebagai hari Chairil Anwar dan seorang kritikus sastra asal Belanda,  A. Teeuw menyatakan bahwa Chairil menyadari bahwa ia akan berpulang pada usia muda sebagaimana tema yang diangkat dalam puisinya yang berjudul Jang Terampas dan Jang Putus.

Jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan filmnya!